Amarah ‘Alim

Dalam kumpulan dongengnya yang bertajuk Saur Mama, Abah bertutur dengan gayanya yang khas. Tak segan dan tak kenal mana kawan mana murid, semua ia hantam kala berbelok menjadi pilihan murid-kawannya tatkala pengambilan istinbath al-ahkam. Ia berani tegas sebab apa yang ditempuhnya bukan sekedar jalan biasa. Ia sadar dan paham bahwa kehadirannya di jamaah ini bukan untuk mencari hidup apalagi penghidupan tapi untuk menghidupkan dan menerangi umat dengan lentera ilmunya. Ia hadir memberikan sepenuh jiwa dan raganya demi memandu umat yang mulai kacau balau sebab retak sejarah yang mesti ditanggung banyak nama di belakang. Mencari pembenaran, mencecap solusi dari alamat-alamat lain sementara putusan para alimnya banyak yang tak didengar apalagi dipatuhi. Ia layak marah ketika berbeda menjadi semembentang jalan berliku di depan sana. Ia koreksi tindakan kawannya dengan gaya khasnya sebagai guru juga kawan. Guru yang kelak mengayomi beribu muridnya serta karib yang tetap setia mengingatkan kawan agar tak lelah belajar demi mewujudkan cita membuat umat semakin sadar akan ketentuan-ketentuan syariat yang tak boleh diacuhkan apalagi dilanggar.
Pada sekumpulan dongeng itu, kita akan berkaca pada sosok Mama Ajengan yang adil, bijak, tegas juga tak pernah bosan mengajarkan murid-muridnya untuk bisa seperti dirinya. Lalu kita akan berkenalan dengan sosok Kai Adma, Kai Sahamah, dan Kai Atam tiga sahabat yang menjadi murid tersayang Mama Ajengan. Tiga terkasih yang sampai hari ini tapak jejak ketiganya masih mewujud nyata dalam perjalanan berjamaah kita. Cianjur, Cibegol dan Pameungpeuk menjadi perlambang utuh atas ikhtiar panjang para santri nakal Mama Ajengan ini. Ketiganya tak pernah luput dari amarah sang guru manakala perbedaan dan ikutan perasaan sering terbawa kala pendapat tak bisa lagi ditenggang. Pernah satu kali, saat berikhtiar menelusuri kebenaran kisah yang terkandung di dalamnya. Saya dibuat terperangah ketika salah satu tokoh utama dalam serial Saur Mama itu membabarkan kisahnya kala dimarahi Mama Ajengan bersebab pandangan dan cara berpikir yang berbeda. Tapi, begitulah pelajaran yang dulu diajarkan para alim kepada murid-muridnya. Ajaran sederhana yang kemudian membekas menjadi keteladanan panjang tak berkesudahan meski panjang usia di dunia telah habis bersebab ajal yang tiba menghampiri. Tapi, usia atas pemikiran-pemikiran panjang mereka tetap abadi sampai kini.
Amarah para ‘alim sudah saatnya menjadi pertanda sederhana untuk kita. Bahwa tak ada cara mudah apatah lagi instan dalam belajar. Salah saat memahami atau menguraikan nasihat-nasihat lapang para alim barangkali bisa kita katakan wajar. Namun, salah ketika kita bersikukuh bahwa apa yang ditempuh benar tetaplah tidak elok diejawantahkan hingga membelakangi apa-apa yang telah diajarkan para ‘alim kepada kita. Maka, bukan soal banyak tidaknya murid pintar di belakang para ‘alim yang bisa menentukan serta meneruskan perjuangan para guru di depan sana. Melainkan mereka yang satu hati dan satu frekuensi serta bisa mempertanggungjawabkan ilmu yang didapatnya dari sang gurulah yang kelak bisa menjadi penerus atas kepanjangan tangan para guru tersebut. Seperti yang diujarkan guru kami, Al-Ustadz KH M. Romly atas ikhtiar pembelajaran lapang ini. Ia berujar ‘ana mah teu butuh jalma pinter, ana mah butuh jalma anu sahate jeung anu tanggung jawab, sabab perkara elmu mah bisa nuturkeun.****
Sumber terlampir fb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *