AL-QURAN & TANTANGAN ZAMAN (Bagian Ke-5)

1-32470004

  1. I’jaz lughawi (aspek kebahasaan)

 

Kemukjizatan Alquran dari segi Bahasa, selain dilihat dari aspek Keindahan susunan ayat-ayatnya—seperti yang telah diuraikan sebelumnya—juga dari aspek gaya bahasa retorisnya (uslub). Aspek ini secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

 

     B.  Ketinggian uslub (gaya bahasa)-nya

Para ulama sepakat bahawa Alquran memiliki uslub yang tinggi. Uslub Alquran memiliki keistimewaan yang tidak akan didapat pada omongan manusia. Di antara keistimewaan uslub Alquran ialah:

 

  • keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika mendengar harakat dan sukun-nya, madd dan gunnah-nya, washal dan saktah-nya, sehingga telinga tidak pernah meresa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.

 

  • Keragaman khitab-nya (penggunaan kata-kata yang ditunjukan kepada mitra dialog), yang menyebabkan berbagai golongan manusia dengan berbagai tingkat intelektualitas dapat memahami kitab itu sesuai dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya sesuai dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun kalangan ahli.

 

  • Memuaskan akal dan menyenangkan perasaan, karena Alquran dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan, secara berimbang. Kekuatan pikir tidak menindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa pun tidak mematikan kekuatan pikir.

 

  • Memiliki fashahah—yakni ketetapan dalam pilihan kata, baik lafalnya, intonasi, dan sebagainya—serta mengandung balaghah (retorika). Fashahah dan balaghah Alquran ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya:

 

Pertama, Majaz (kiasan), yaitu penggunaan makna kata yang bukan sebenarnya. Sebagai contoh dalam firman Allah:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا. الانفال : 2.

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya terhadap mereka, ayat-ayat itu menambah iman mereka.” (Q.s. Al-Anfal : 2).

 

Dalam ayat tersebut, kata ‘tambahan’ dihubungkan kepada ayat, padahal semestinya dihubungkan kepada iman orang mukmin yang bertambah karena mendengar bacaan ayat-ayat tersebut.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ. فصلت : 11.

“Kemudian Dia menuju pada penciptaan langit, padahal (waktu itu masih berupa) asap (gas), kemudian Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah dengan kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa!’ Keduanya berkata, ‘Kami berdua datang dengan sukarela’.” (Q.s. Fushilat : 11).

 

Kata qaalataa (keduanya berkata atau menjawab) pada asalnya digunakan untuk yang berakal, tetapi pada ayat di atas digunakan untuk yang tidak berakal.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ… المائدة : 3

“Telah diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi …” (Q.s. Al-Maidah : 3).

 

Kata “babi” hanya disebut bagiannya saja, yaitu daging. Ini tidak berarti bahwa bagian-bagian lainnya, seperti kulit, tulangnya, dan lain sebagainya, menjadi halal, karena yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah seluruh anggota tubuh yang ada pada babi. Kata “daging” disebut secara khusus bertujuan untuk memberikan penjelasan bahwa bagian yang menjadi pokok untuk dimakan pada babi adalah dagingnya

 

Kedua, Isti’arah (kata pinjaman), yaitu suatu kata yang digunakan bukan menurut makna aslinya. Sebagai contoh dalam firman Allah:

وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا .مريم : 4.

“Dan telah penuh uban di kepala (ku).” (Q.s. Maryam : 4).

 

Kata isyta’ala arti asalnya adalah “menyala”, dan kata menyala itu untuk api bukan untuk uban. Namun karena uban itu terjadi sedikit demi sedikit, maka tak ubahnya seperti nyala api pada arang. Jadi, kata isyta’ala dalam ayat di atas adalah kata isti’arah.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ. التكوير : 18.

“Demi (waktu) shubuh apabila fajar mulai menyingsing.” (Q.s At-Takwir : 18).

 

Kata tanaffas arti asalnya adalah “bernafas” atau “menarik nafas”. Karena terbitnya matahari itu berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, maka tak ubahnya seperti orang yang sedang bernafas. Jadi, kata tanaffas dalam ayat di atas adalah kata isti’arah.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنْ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. المائدة : 15.

“Wahai Ahlul Kitab! Sungguh telah datang Rasul Kami kepadamu, menerangkan kepadamu sebagian besar isi kitab yang kemu sembunyikan, dan banyak yang tidak ia perdulikan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dan kitab yang jelas dari Allah. “ (Q.s. Al-Maidah : 15).

 

Kata nur arti asalnya adalah “cahaya”. Adapun yang dimaksud nur dalam ayat tersebut adalah Muhammad saw., karena beliau membawa hidayah yang dapat menuntun manusia dari kekufuran kepada keimanan, tak ubahnya seperti cahaya yang menyinari seseorang di tempat yang gelap. Jadi, kata nur dalam ayat ini adalah kata isti’arah.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا. الكهف : 99.

“Kami biarkan pada hari itu mereka bercampr baur dengan sebagian yang lain, kemudian ditiup sangkakala, lalu Kami mengumpulkan mereka itu semuanya.” (Q.s. Al-Kahfi : 99).

 

Kata yamuuju dalam ayat ini disebut kata isti’arah, sebab arti asalnya “bergelombang”. Kata tersebut asalnya digunakan untuk air laut, tetapi dalam ayat di atas digunakan untuk gelombang manusia pada hari kiamat.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ. الاعراف : 154.

“Dan ketika kemarahan Musa reda.” (Q.s. Al-A’raf : 154).

 

Kata sakata disebut kata isti’arah, sebab arti asalnya ialah “diam” yang penggunaannya untuk ucapan atau perkataan, bukan untuk kemarahan.

 

Ketiga, Tasybih (metafora), yaitu menunjukan adanya penyerupaan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain dari segi maksudnya. Sebagai contoh, Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.

“Perumpamaan orang-orang yang menjadikan pelindung-pelindung selain Allah, tak ubahnya seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahui.” (Q.s. Al-Ankabut : 41).

 

Ayat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa peganggan orang-orang musyrik dalam beribadah kepada selain Allah itu adalah peganggan yang paling lemah. Mereka berusaha dengan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran, akan tetapi mereka tidak akan memetik buah dari hasil usahanya itu. Ini tak ubahnya seperti usaha laba-laba yang membuat rumah atau sarang, padahal rumah yang dibuatnya itu sangat rapuh, tidak sesuai dengan jerih payah yang telah dikerahkan.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ …

“Perumpamaan amal-amal orang yang ingkar kepada Tuhan mereka itu seperti debu yang diterbangkan angin kencang tatkala bertiup badai. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan.” (Q.s. Ibrahim : 18).

 

Ayat di atas menceritakan amal usaha orang kafir yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun. Ini seperti debu yang diterbangkan angin kencang, tidak terdapat sisa sedikit pun. Maka amal orang kafir, walau pun secara lahiriah dinilai baik oleh manusia, tetapi di akhirat nanti tidak akan ada manfaatnya sama sekali.

 

Contoh dalam surat lain, Allah berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ.

“Mereka (istri-istri) itu (seperti) palaian untuk kamu (suami-suami), dan kamu (seperti) pakaian untuk mereka.” (Q.s. Al-Baqarah : 187).

 

Ayat ini menyerupakan wanita dan pria seperti pakaian masing-masing. Kita tahu bahwa pakaian merupakan kebutuhan pokok atau primer. Setiap manusia menghajatkan pakaian. Demikian pula setiap orang membutuhkan pasangan dari jenis lainnya. Di samping itu bentuk modelnya pun sesuai dengan selera orang yang akan memakainya. Karena itu, dalam memilih dan menentukan jodoh tidak boleh dipaksakan selama tidak bertentangan dengan hukum Allah swt. Ditinjau dari sudut saling membutuhkan inilah Allah mengumpamakan pria dan wanita itu seperti pakaian.

 

Ayat-ayat di atas diungkapkan dengan menggunakan tasybih (metafora), tiada lain bertujuan agar dapat memberikan gambaran yang jelas di samping untuk memberikan kesan yang mendalam di dalam jiwa pendengar atau pembacanya.

 

Keempat, Al-Iejaz, yaitu menggunakan kata atau kalimat ringkas yang memiliki makna luas. Sebagai contoh dalam firman Allah:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ.

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Q.s. Al-Baqarah:179

 

Ayat tersebut diungkap dengan kalimat ringkas, tetapi mengandung makna yang luas, karena yang dimaksud ayat di atas ialah apabila seorang membunuh maka dia mengetahui kapan dia akan dibunuh. Ayat di atas menyuruh seseorang untuk menghindarkan diri dari pembunuhan. Karena pembunuhan akan menghilangkan kehidupan bagi dirinya (pembunuh) dan bagi orang lain (yang dibunuh). Dengan cara itu dia akan panjang umur dan banyak turunan, sehingga masing-masing akan memperoleh manfaat dari kehidupannya.

 

Kelima, Al-Ithnab, yaitu menambah kata atau kalimat pada suatu makna untuk memberi tambahan faidah. Seperti:

  • menyebutkan sesuatu yang khusus setelah yang umum. Sebagai contoh, Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wustha.” (QS. Al-Baqarah : 238).

 

Kata shalat wushtha (ashar) secara khusus disebut setelah salat-salat lainnya. Hal ini untuk menunjukan bahwa salat ashar memiliki keutamaan yang lebih dari satu segi bila dibandingkan salat-salat lainnya.

 

  • Menyebut kembali kata atau kalimat yang telah disebut. Sebagai contoh, Allah berfirman:

كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ # ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ . التكاثر : 3-4 .

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Q.s.At-Takatsur:3-4

 

Kalimat sawfa ta’lamun disebut kembali setelah yang pertama, dengan maksud untuk memberikan rasa takut yang berlebihan terhadap kesalahan yang mereka lakukan.

 

Keenam, Taqdim (mendahulukan penyebutan suatu kata) dan Ta’khir (mengakhirkan penyebutan suatu kata). Sebagai contoh, Allah berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. الفاتحة : 5.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

 

Pada ayat di atas kata iyyaka didahulukan penyebutannya dari pada na’budu dan nasta’in, hal ini bertujuan untuk mengagunggkan Allah serta akan menjadi perhatian. Di samping itu untuk menekankan bahwa ibadah dan isti’anah itu khusus hanya kepada Allah, karena Allah mempunyai kekuasaan mutlak terhadapnya.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *