AL-QURAN & TANTANGAN ZAMAN (Bagian Ke-3)

tumblr_l7phyrvFzx1qzthjao1_500

Kemukjizatan Al-Quran

Para tukang sihir Fir’aun itu terkesima. Ular-ular kecil yang mereka ciptakan (dengan sihir) tiba-tiba ditelan mentah-mentah oleh tongkat Nabi Musa (Q.s. Al-‘Araf [7]:116, Q.s. Tha Ha [20]:66, dll.). Tentu bukan sembarang tongkat, karena tongkat itu berubah menjadi ular besar yang menelan ular-ular kecil. Sekali waktu juga, tatkala pasukan Fir’aun mengejar Nabi Musa, tongkat itu dientakan ke laut. Terbelahlah laut dan Nabi Musa lewat dengan tenang.
Lain Nabi Musa, lain Nabi Ibrahim. Bapak para nabi ini sanggup, dengan izin Allah, menghidupkan kembali burung yang telah dipenggal-penggal dan diletakan secara terpisah. Dalam kasus yang lebih ekstrem dan spektakuler, Nabi Isa sanggup menghidupkan orang yang sudah meninggal, menyembuhkan si buta, dan berbicara kebenaran ketika masih bayi (Q.s. Ali Imran [3]: 49).
Jika Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan juga Nabi lainnya hanya dapat berbicara dengan manusia, Nabi Sulaiman justru dapat bercakap-cakap dengan semut, kaki seribu, ular, monyet, serta sanggup memerintahkan jin untuk sebuah pekerjaan—Nabi Sulaiman pernah memerintahkan para jin untuk memindahkan istana Ratu Bilqis dalam waktu sekejap saja–. Pendeknya, setiap Nabi memiliki keistimewaan dan kemampuan yang spektakuler dibandingkan manusia pada zamannya.
Berbeda dengan mukjizat para Nabi sebelumnya, yang terbatas ruang dan waktu—sebagai respons kesanggupan manusia pada waktu itu—mukjizat Nabi Muhammad justru terdapat pada “tidak terbatasnya ruang dan waktu”, yakni Alquran sebagai mukjizat sepanjang zaman.
Alquran merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad yang dianggap paling besar. Kitab suci ini abadi—dalam pengertian yang luas—hingga tetap dipakai sampai akhir zaman. Pada zaman ketika diturunkan, Alquran telah menjadi kitab yang tiada bandingannya. Dan sepanjang waktu, seiring dengan berubahnya zaman, Alquran tetap seperti sediakala. Dalam gambarannya yang sejati, ia tidak pernah berubah, secuil pun tanda bahasanya, betapapun ia telah diterjemahkan kedalam ratusan bahasa yang ada di dunia. Alquran memuat banyak hal yang melebihi dan mengatasinya zamannya. Lebih dari itu semua, Alquran membawa sikap-sikap yang revolusioner.
Salah satu pernyataan revolusioner adalah ketika Alquran memberi hak pada perempuan untuk menerima warisan. Sekalipun orang yang tidak memahaminya menyatakan warisan separuh bagian itu menandakan pendeskreditan perempuan, jika dibaca dalam konteks zaman itu—ketika perempuan tidak memiliki harga dan hak sama sekali—pernyataan Alquran tersebut sangat revolusioner.
Nabi Muhammad yang ummi (tidak membaca dan menulis) menjadi jaminan tentang shahihnya kitab ini, terbebas dari intervensi Nabi Muhammad. Allah sendiri memberi jaminan tentang sejatinya dan keterjagaan Alquran dari intervensi tak bertanggung jawab, terutama intervensi linguistik (bahasa). Allah Swt. berfirman:
قُلْ لَّأِنِ اجْتَمَعَتِ اْلاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلى اَنْ يَأْتُوْا بِمِثْلِ هذَا الْقُرْاَنِ لاَ يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin bekumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian dari mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. Q.s. Al-Isra : 88
Tanggapan-tanggapan negatif terhadap kemukjizatan Alquran terbukti tidak sanggup mematahkan kebenaran Alquran sendiri. Para orientalis barat, antara lain seperti John Wansbrough yang menulis buku Quranic Studies (1977) yang berisi ketidakpercayaan pada keaslian Alquran, justru menunjukan kelemahan dalam kajian-kajian historis dan pemahaman dinamika internal Alquran sendiri.3
Karena itu, kemukjizatan Alquran bukan hanya merupakan sumber daya tarik kitab ini, tetapi juga merupakan sumber inspirasi ilmiah bagi para pencintanya. Alquran itu sendiri telah membuat manusia tidak dapat melakukan sesuatu untuk dapat membandingkannya. Di hadapan Alquran, manusia menjadi lemah dan tidak berdaya. Betapapun hebatnya pengetahuan manusia itu sendiri.

 

I.     Pengertian Mukjizat Alquran

Kata mukjizat berasal dari kata al-i’jaz. Menurut bahasa artinya menisbahkan kelemahan pada orang lain, yaitu ketidak mampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Allah berfirman:

أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي …

“Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” (Q.s. Al-Maidah :31)

Sedangkan menurut istilah, kata al-I’jaz berarti “pengejawantahan kebenaran seorang nabi dalam menda’wahkan kerasulannya dengan memperlihatkan kelemahan orang-orang yang menentangnya”.

Adapun kata al-mu’jizat menurut Dr. Mana’ul Qathhan adalah:

أَمْرُ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّي سَالِمٌ عَنِ الْمُعَارَضَةِ

Suatu hal di luar kebiasaan yang disertai adanya tantangan dan selamat dari perlawanan.” (Lihat, Mabahits fi Ulumil Quran, 1973:259).

Keterangan-keterangan di atas menunjukan bahwa I’jaz Alquran mengandung pengertian pengejawantahan ketidakmampuan manusia, khususnya orang Arab, baik secara individu maupun secara kolektif, untuk menciptakan sesuatu yang lain yang serupa dengan Alquran.

I’jaz Alquran tidak bermaksud untuk meremehkan potensi yang terdapat pada diri manusia, dalam arti memberitahukah bahwa manusia tidak akan mampu menciptakan sesuatu yang membawa kemaslahatan hidupnya seperti yang akan dituju oleh Alquran, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk memperlihatkan kebenaran Alquran serta membuktikan kebenaran pengakuan Muhammad bahwa dirinya adalah Rasul Allah. Demikian pula mukjizat yang diberikan kepada para nabi sebelum beliau, tujuannya tiada lain kecuali memperlihatkan serta membuktikan kebenaran mereka. Di samping itu untuk menetapkan bahwa ajaran yang mereka bawa adalah wahyu dari Allah swt. mereka hanya mendapat tugas menyampaikan risalah Allah.

Dengan pengertian ini, mukjizat berarti bukti-bukti yang nyata dari Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui kebenaran para Rasul-Nya. Dengan perantaraan mukjizat ini, seakan-akan Allah hendak mengatakan, “Apa yang disampaikan oleh hamba-Ku adalah benar dari Aku, dan Aku telah mengutus agar dia menyampaikan hal itu kepada kalian. Sebagai bukti atas kebenarannya, Aku menganugrahkan kepadanya sesuatu hal di luar kebiasaan, yang tidak ada seorangpun di antara kalian mampu menandinginya”.

 

  1. Karakteristik Tampilan I’jaz Alquran

Al-I’jaz ditunjukan oleh adanya tiga karakter (ciri khas, sifat dasar) yang melekat pada dirinya.

 

A.     Mengandung tantangan

Alquran merupakan tantangan bagi bangsa Arab pada khususnya, umat manusia pada umumnya yang mempunyai sikap dan pandangan yang keliru terhadap Alquran sebagai mukjizat yang dibawakan nabi yang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Beliau tidak mengenyam pendidikan formal atau mengikuti kegiatan keilmuan. Dalam tarikh (sejarah) tidak diperoleh keterangan beliau pernah belajar, menimba ilmu dari ulama atau ilmuwan; juga tidak pernah berhubungan denga ulama atau pendeta (akhbar dan ruhban) Yahudi dan Nasrani (Ahlul Kitab). Akan tetapi, beliau mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi dengan umat-umat terdahulu serta kisah-kisah para nabi sebelumnya seperti yang terjadi dalam Alquran itu.

Beliau mendatangi mereka, membawa kitab yang mulia ini sebagai tantangan bagi mereka dengan mempergunakan ungkapan yang indah serta dialek yang sempurna, secara bertahap melalui dua bentuk:

 

Pertama, tantangan secara umum

Tantangan ini ditunjukan kepada seluruh manusia, baik orang Arab maupun non Arab, serta meliputi seluruh lapisan masyarakat, baik golongan awam maupun cerdik cendekia. Allah berfirman:

قُلْ لَئِنْ اجْتَمَعَتْ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا. الاسراء :88.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia danjin bekerja sama untuk membuat yang serupa denga Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (Q.s. Al-Isra : 88)

Sebenarnya tantangan tersebut hanya ditunjukan kepada manusia, tidak meliputi jin, karena jin tidak termasuk bangsa yang berbahasa Arab yang dalam gaya bahasa itu Alquran diturunkan. Jin disebut dalam ayat tersebut hanyalah untuk menunjukan keagungan atau betapa hebatnya kemukjizatan Alquran. Sebab andaikata jin dan manusia benar-benar saling membantu dan ternyata semuanya tidak mampu menandinginya, maka apalagi salah satu golongan (baik manusia ataupun jin), keadaannya tentu tidak mampu lagi. (Lihat, Al-Burhan fi Ulumil Quran, II : 111)

 

Kedua, tantangan secara khusus

Tantangan ini ditujukan kepada orang-orang Arab, khususnya kafir Quraisy. Tantangan ini menggunakan dua model:

 

  1. Tantangan kulli (menyeluruh)

Tantangan kepada mereka dengan seluruh Alquran, baik dari segi hukum maupun bahasa, seperti ushlub (gaya bahasa), fashahah (ungkapan kata yang jelas), dan balaghah (kefasihan lidah) nya. Allah berfirman :

فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

“Maka hendaklah mereka mendatangkan (membuat) sebuah hadis yang seperti Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar.” (QS. Ath-Thur : 34).

Yang dimaksud dengan kata hadits dalam ayat ini adalah bacaan yang seperti Alquran, yaitu adakan ‘Quran’ yang menyerupai Alquran yang dibawa oleh Muhammad kepada mereka.

 

b.        Tantangan juz’i (parsial, sebagian)

Tantangan kepada mereka dengan sebagian surat dari Alquran:

 

b.1. Dengan sepuluh surat. Allah berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنْ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ # فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزِلَ بِعِلْمِ اللهِ…

“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat Alquran itu.’ Katakanlah, ‘(kalau demikian), maka adakanlah sepuluh surat yang direka-reka yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu dapat (memanggilnya) selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu, maka (katakanlah olehmu): ‘Ketauhilah, sesungguhnya Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah … “ (Q.s. Hud : 13-14)

 

b.2. Dengan satu surat. Allah berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.

“Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(kalu benar yang kamu katakan itu), maka cobalah adakan sebuah surat serupa itu dan bujuklah siapa-siapa yang dapat kamu bujuk (untuk membuatnya) selain Allah jika kamu orang-orang yang benar’.” (Q.s Yunus: 38)

Tantangan ini disebutkan kembali dalam firman-Nya:

وَإِنْ كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ. البقرة : 23.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang serupa dengan Alquran itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.s. Al-Baqarah: 23).

Ayat-ayat di atas merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan Alquran, dan Alquran tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastra dan bahasa, karena Alquran merupakan mukjizat Nabi saw. yang dapat dibuat hanya oleh Allah swt.

Tantangan Alquran dalam bentuk-bentuk seperti di atas tidak bermaksud mengejek mereka, dan bukan pula untuk memperlihatkan kesombongan, tetapi bertujuan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang masih meragukan kebenaran Alquran untuk berfikir. Dan jika mereka tidak mampu mengadakan sesuatu yang lain yang serupa dengan Alquran, sekalipun hanya satu surat yang pendek, maka mereka jangan terus-terusan tidak mempercayai Alquran dan menghalangi orang-orang yang hendak mempercayainya.

 

B.     Adanya penentang

Nabi saw. datang kepada orang-orang Arab dengan membawa agama baru. Secara sembunyi-sembunyi beliau menyeru keluarganya yang tinggal dalam satu rumah, dan sahabat-sahabat beliau yang terdekat, orang per orang agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Setelah tiga tahun lamanya Rasul melakukan dakwah dengan cara seperti itu, maka mulailah beliau menyeru kaumnya secara umum di tempat-tempat terbuka untuk menyembah Allah dan mengesakan-Nya.

Pertama kali seruan yang bersifat umum ini beliau tunjukan kepada kerabatnya sendiri, lalu kepada penduduk mekah umumnya, dan kemudian kepada kabilah-kabilah Arab dari berbagai daerah yang datang ke Mekah untuk mengerjakan haji. Dengan seruan yang bersifat umum dan terang-terangan ini, maka Nabi saw. dan agama yang dibawanya menjadi pusat perhatian dan pembicaraan ramai di kalangan masyarakat kota Mekah.

Pada mulanya mereka menganggap gerakan Nabi Muhammad saw. itu tidak akan mendapat sambutan luas, tidak punya arah tujuan, serta akan bertahan sebentar saja. Karena itu, mereka bersikap acuh tak acuh serta membiarkannya. Tetapi ternyata gerakan Nabi terus meningkat, mendapat sambutan luas, pengikutnya makin bertambah banyak, dan seruannyapun bertambah tegas, jelas dan lantang. Beliau menunjukan kecamannya terhadap agama berhala kaumnya dengan mencela sesembahan mereka serta membodoh-bodohkan nenek moyangnya yang menciptakan dan sekaligus menyembah berhala-berhala itu.

Ketika bangsa Quraisy melihat perkembangan gerakan Islam serta mendengar penghinaan dan pencelaan atas nenek moyang mereka serta berhala-berhalanya yang selama itu mereka puja; maka bangsa Quraisy pun mulai memberikan reaksi. Beberapa pemimpin Quraisy berkumpul untuk merundingkan cara-cara yang ditempuh untuk menghadapi Nabi. Antara lain diputuskan untuk mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang tenar tiada bandingnya, agar menemui Nabi dan mengusulkan kepada Nabi untuk segera menghentikan gerakan dakwahnya.

Kepada Nabi dijanjikan, bila mau menghentikan dakwahnya, akan diberi imbalan pangkat, harta, atau apa saja yang beliau inginkan. Mendengar usulan dan tawaran dari Abul Walid itu, Nabi membacakan surat (41) Fushilat dari awal sampai akhir agar didengar oleh Abul Walid. Abul Walid diam terpesona mendengar bacaan ayat-ayat Alquran itu. Ia termenung-menung menikmati keindahan gaya bahasanya; dan kemudian, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sebagai tanda berpamitan, ia pergi meninggalkan Nabi dan kembali kepada kaumnya. Seperti halnya Abul Walid, demikian pula reaksi ahli syair dan ahli sastra lainnya dalam menghadapi tantanngan Alquran, mereka bungkam seribu bahasa, tidak berani tampil secara terbuka untuk menjawab tantagan Alquran. Memang ada yang berusaha membuat syair, meniru Alquran, akan tetapi mereka semuanya gagal. Dan kemudian mendapat cemoohan dan hinaan dari masyarakat.

Cukuplah untuk diketahui bagaimana pengaruh Alquran terhadap sastrawan-sastrawan penentang Islam dan reaksi mereka terhadap tantangan-tantangan Alquran sendiri, karena pengakuan para penentang Islam adalah bukti yang nyata atas kebenaran I’jaz-nya kitab suci ini.

 

C.      Tidak ada penghalang untuk penentang

Alquran diturunkan pada suatu masa yang telah disepakati bahwa pada masa itu adalah masa yang amat gemilang ditinjau dari segi kemajuan bahasa, dan pada masa itu banyak sekali terdapat ahli sastra dan ahli pidato Arab.

Alquran, yang tidak dapat ditandingi itu oleh orang Arab itu, sebenarnya tidak menyimpang dari aturan-aturan kalam mereka, baik lapal dan huruf-hurufnya, maupun susunan dan uslubnya. Sejarah membuktikan, ahli-ahli bahasa terjun kedalam arena festival bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang mampu membuat satu gubahan yang seindah gubahan Alquran. Hal ini menjadi bukti bahwa ketidakmampuan mereka dalam menjawab tantangan Alquran itu bukan disebabkan Alquran menggunakan aturan-aturan bahasa yang tidak dikenali oleh mereka, melainkan karena Alquran itu sendiri adalah mukjizat dari Allah swt.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *