1 MUHARRAM 1437 H: ANTARA RABU & KAMIS

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa pada bulan Muharram terdapat syariat shaum pada tanggal 9 dan 10 atau yang popular disebut Tasu’a-Asyura. Karena pelaksanaan shaum ini terikat dengan ketetapan waktu (miqat zamani) maka dibutuhkan pengetahuan terhadap almanak atau penanggalan yang disertai dengan data keastronomian, ramalan cuaca, dan sebagainya.

Untuk mengetahui kapan tanggal 9 dan 10 Muharram di tahun 1437 H. yang akan datang kita dapat merujuk dua kalender yang dipergunakan oleh Persatuan Islam (Persis) dan Muhamadiyyah. Kedua kalender ini ditetapkan berdasakan kriteria hisab yang berbeda. Kalender Persis menggunakan kriteria LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), sementara Muhamadiyyah dengan Kriteria wujud hilal.

Kriteria Wujudul hilal akan menetapkan awal bulan jika secara Hisab (perhitungan) ijtimak sudah terjadi sebelum Ghurub (Maghrib), serta secara matematis posisi Hilal ketika Maghrib berada di atas ufuk. Jadi, dalam Kreteria wujudul hilal ini, tidak diperhitungkan ketampakan hilal (Visibilitas Hilal) ketika Maghrib. Asal Hilal berada di atas Ufuk baik memungkinkan untuk dilihat ataupun tidak maka awal bulan ditetapkan sudah masuk. Demikian pula tak peduli apakah saat itu sedang mendung, hujan, atau bulan masih terlalu rendah dan tak terlihat mata.

Sementara menurut kriteria LAPAN, awal bulan hijriyyah ditetapkan jika setelah terjadi ijtimak, posisi bulan pada waktu ghurub (terbenam matahari) di wilayah Indonesia sudah memenuhi syarat:

  • Beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4 derajat,
  • Jarak busur (elongasi) antara bulan dan matahari minimal sebesar 6.4 derajat

1

Ilustrasi Awal Bulan Hijriyah Menurut Kriteria LAPAN

Perbedaan kriteria di atas tentu saja berdampak pada perbedaan dalam penetapan awal bulan hijriah, meski hasil perhitungan hisabnya relatif tidak berbeda. Hal itu tampak jelas terlihat dalam penetapan awal Muharam 1437 H. jika kita merujuk pada data hisab bulan Muharam 1437 H. karya KH. Muhammad Thobary Syadzily al-Bantani (Ketua Divisi Pengembangan Kajian Keagamaan, Penerbitan & Multi Media Lembaga Dakwah PBNU, sebagai berikut:

Pusat Observasi Bulan (POB) : Pelabuhanratu, Sukabumi

Lintang Tempat (Ø )                : – 07 ° 01′ 44,60” Lintang Selatan

Bujur  Tempat ( λ )                   : 106 ° 33′ 27,80” Bujur Timur

Tinggi Tempat / Elevasi ( EL ) : 52,685 Meter di atas Permukaan Laut

Rekap Hasil Perhitungan Awal Bulan Muharram 1437 H. / 2015 M:

  1. Ijtima’ ( اجتماع / Konjungsi / New Moon ) akhir bulan Dzul-Hijjah 1436 H. terjadi pada hari Selasa Kliwon, 13 Oktober 2015 M. pada pukul 07 : 06 : 00 WIB (Pagi Hari).
  2. Matahari Terbenam ( غروب الشمس/ Sunset ) pada pukul 17 : 47 : 00 WIB.
  3. Hilal Terbenam ( غروب الهلال / Moonset ) pada pukul 18 : 03 : 49 WIB.
  4. Umur Hilal (عمر الهلال/ Age of  the Crescent Moon ) = 10 jam 41 menit.
  5. Tinggi Hakiki / Geosentris Hilal ارتفاع الهلال الحقيقي ) / True or Geocentric Altitude of  the Crescent Moon) = 4° 27 ‘ 54,45 ” = 4,5 ° ( di atas ufuk / above horizon ).
  6. Tinggi Lihat / Toposentris Hilal ( ارتفاع الهلال المرئي / Apparent or Topocentric Altitude of  the Crescent Moon ) = 4° 12 ‘ 16,13 ” = 4,2 ° ( di atas ufuk / above horizon ).
  7. Lama Hilal di atas ufuk (مكث الهلال فوق الأفق/ Long of the Crescent ) = 16 menit 49 detik.
  8. Azimuth Matahari ( سمت الشمس / Azimuth of  the Sun ) = 262° 4′ 27,39 ” atau 262,1°.
  9. Azimuth Hilal ( سمث الهلال / Azimuth of  the Crescent ) = 262° 13′ 37,5° atau 262,2 derajat.
  10. Posisi Hilal  0° 9′ 10,11 ” atau 0,2° di sebelah Selatan Matahari Terbenam dalam keadaan miring ke Selatan sebesar 2° 4′ 53,22 ” atau  2,1 °.
  11. Lebar Nurul Hilal (سمك الهلال / Crescent Widht) = 0,280483765 Jari.

Data hisab di atas jika kita tafsirkan menurut kriteria wujud hilal dapat diartikan bahwa saat Magrib hari Selasa 29 Dzulhijjah 1436 H/13 Oktober 2015, hilal Muharram telah wujud secara matematis. Karena itu, jumlah hari bulan Dzulhijjah 1436 H. ditetapkan 29 hari dan 1 Muharram 1437 H ditetapkan jatuh pada hari Rabu 14 oktober 2015.

Namun jika kita tafsirkan menurut kriteria LAPAN, bahwa saat Magrib di hari Selasa itu, hilal Muharram—meski telah wujud secara matematis—namun belum bisa dilihat (ghair imkaan ru’yah). Sebab tidak memenuhi syarat keterlihatan hilal yang dipakai oleh LAPAN (Beda Tinggi >4 derajat; Elongasi 6,4 Derajat), dan hilal baru bisa terlihat pada hari Rabu malam Kamis.  Karena itu, jumlah hari bulan Dzulhijjah 1436 H. digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Muharram 1437 H ditetapkan jatuh pada hari Kamis 15 oktober 2015.

Lalu, bagaimana dengan ketetapan Kementrian Agama (Pemerintah)? Dalam teori hisabnya, pemerintah mengacu kepada Kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura).

Menurut kriteria MABIMS, hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

  • Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  • Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
  • Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

2

Ilustrasi Awal Bulan Hijriyah Menurut Kriteria MABIMS

Data hisab di atas jika kita tafsirkan menurut kriteria MABIMS dapat diartikan bahwa saat Magrib hari Selasa 29 Dzulhijjah 1436 H/13 Oktober 2015, hilal Muharram sudah bisa dilihat (imkaan ru’yah). Karena itu, jumlah hari bulan Dzulhijjah 1436 H. ditetapkan 29 hari dan 1 Muharram 1437 H ditetapkan jatuh pada hari Rabu 14 oktober 2015. Meski begitu, dalam praktiknya pemerintah masih menunggu laporan hasil pengamatan hilal. Jika ada laporan dari satu daerah di Indonesia yang melihat hilal saat Magrib hari Selasa 29 Dzulhijjah 1436 H/13 Oktober 2015, maka besar kemungkinan pemerintah menetapkan sesuai kriteria hisabnya, 1 Muharram jatuh pada hari Rabu 14 oktober 2015. Namun jika tidak ada satu pun daerah di Indonesia yang melaporkan melihat, maka dimungkinkan bagi pemerintah untuk menetapkan 1 Muharram jatuh pada hari Kamis 15 oktober 2015.

Kesimpulan

  • Di Prediksi awal Muharram 1437 H, akan terjadi perbedaan, khususnya Persis (setelah menggunakan kriteria baru Imkanurrukyat astronomis) dengan ormas penganut wujudul hilal dan pengguna Imkanurrukyat kriteria MABIMS.
  • Penganut wujudul Hilal (Ormas Muhamadiyah) memutuskan bahwa awal awal Muharram 1437 H: Rabu 14 oktober 2015.
  • Penganut Imkanurrukyat kriteria MABIMS (Pemerintah) memutuskan awal Muharram 1437 H: Rabu 14 oktober 2015, kecuali laporan Rukyat tidak ada yang mengaku melihat hilal. NU diprediksi sama dengan pemerintah.
  • Persis memutuskan awal Muharram 1437 H: Kamis 15 oktober 2015
  • Pelaksanaan shaum 9-10 Muharram 1437 H (Tasu’a-‘Asyura) diprediksi ada yang mengambil Kamis – Jumat (22-23 Oktober 2015) dan Jumat – Sabtu (23-24 Oktober 2015)

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *